Obituari The Godfather Of Broken Heart: Ora Iso Mulih


Didi Kempot yang dijuluki "The Godfather Of Broken Heart" meninggal mendadak terkena serangan jantung di RS Kasih Ibu Solo, Selasa pagi (5/5). Kabar duka tersebut menyebar hingga ke tengah perkebunan di Kabupaten Lampung Tengah. Ali Septa Wirastanto, perantau dari Jogjakarta ke Lampung sejak tahun 2005 ikut berduka cita. Lagu-lagu Didi Kempot menjadi penggembira keriduannya pada kampung halaman. Apalagi: ora iso mulih saat pandemi Covid-19 ini. Untuk mengenangnya Didi Kempot, ini coretan yang mungkin mewakili perasaan banyak orang terhadap sang penyanyi "ambyar" tersebut dengan judul:


[caption id="attachment_40831" align="alignnone" width="720"] Ali Septa Wirastanto dan isteri/Dok Pribadi.[/caption]

In Memorial The Godfather Of Broken Heart: Ora Iso Mulih.

Oleh Ali Septa Wirastanto*

SEBUAH pesan singkat dari istri saya yang sedang berada di kantor langsung menghadirkan mendung di tengah perkebunan di Kabupaten Lampung Tengah, pagi hari yang cerah: Didi Kempot meninggal?

Saya langsung bergegas menyalakan TV dan mengecek medsos. Benar saja, kabar duka itu sudah berseliweran di banyak media.

Padahal beberapa hari terakhir ini, istri saya tengah sibuk mempersiapkan diri untuk ikuti konser virtual yang akan dilakukan bersama lebih dari 200 orang alumni UGM dalam rangka penggalangan dana terkait penanggulangan Covid-19.

Bahkan, alumni UGM mengajak serta sang legenda untuk turut menyanyi pada konser virtual tersebut.

Rencananya, mereka akan membawakan lagu Ora Iso Mulih yang diciptakan oleh Mas Didi Kempot, kemudian dipopulerkan sebagai himbauan bagi para perantau agar sementara waktu menunda rencana mudiknya, terkait pandemi yang saat ini tengah melanda.

Beberapa kali, saat mendengar istri saya berlatih menyanyikan lagu itu, saya sering meralat logat dan lafal dari lirik yang dibawakannya karena kebetulan ia memang jarang menggunakan Bahasa Jawa.

Mau tak mau, saya pun jadi latah ikut bernyanyi, bahkan juga sempat mendendangkan beberapa lagu dari salah satu penyanyi legendaris favorit saya itu, sambil mengotak-atik mainan Lego bersama anak-anak kemarin malam.

Lagu Pamer Bojo yang hits dengan yel-yel cendol dawet-nya pun tak lupa saya dendangkan saat melihat segelas es cendol sisa menu berbuka puasa. Bahkan, tadi pagi, saat istri saya bersiap hendak berangkat ke kantor, sepenggal lirik lagu Ora Iso Mulih pun masih latah ia dendangkan.

Lagu-lagu Mas Didi Kempot memang akrab di telinga saya. Saya biasa memutarnya sembari mencatat daftar belanjaan di kedai, memasak, membuat rekap harian atau saat mengotak-atik motor.

Liriknya selalu menghibur, terlebih bagi saya yang berada jauh dari kampung halaman.

Sampai saya berniat bakal menonton langsung konsernya kalau suatu hari nanti sang legenda manggung di Lampung. Namun manusia memang hanya bisa berencana.

Ambyar sudah niat saya untuk mewujudkannya. Juga tak bakal ada lagi penonton konser berjoget sambil nangis sesunggukan, baper dengan lagu yang dibawakan "The Godfather of Broken Heart".

Sungguh, usia adalah rahasia Ilahi.

Buat saya, beliau adalah legenda. Seorang seniman sejati yang mampu merangkul dan direngkuh semua kalangan. Musik dan liriknya juga mudah akrab di semua lapisan dan generasi, mulai dari kaum marjinal hingga kaum mapan, mulai generasi baby boomers hingga generasi milenial.

Musiknya tak hanya mampu membuat seorang yang sedang sedih karena patah hati lantas berjoget mengikuti irama, namun juga mampu membuat seseorang yang sedang bersuka karena cinta kontan berkaca-kaca merasa baper dengan isi lagunya.

Kau berpulang di bulan yang penuh berkah Mas Didi Kempot.

Semoga baik di akhir dan semua amal baik serta karyamu menempatkanmu di tempat terbaik, di sisi-Nya. Aamiin

Selamat jalan Mas Didi Kempot, kepergianmu di Bulan Suci ini justru mengingatkan kami, agar berusaha mengisinya dengan lebih baik lagi dan tak boleh lengah, karena kapan pun, di posisi mana pun, kami juga pasti berpulang.

Ada sebuah kutipan apik dari Godfather, lakon legendaris rekaan Mario Puzo: "Great men are not born great, they grow great."ÔüúÔüú
ÔüúÔüú
Dionisius Prasetyo, nama asli sosok yang lebih dikenal dengan Didi Kempot, secara liris berhasil mengejawantahkan kutipan tersebut.ÔüúÔüú
ÔüúÔüú
Tumbuh dari keluarga seniman--ia putra dari seniman tradisional terkenal, Ranto Edi Gudel alias Mbah Ranto, sekaligus adik kandung Mamiek Prakoso, pelawak senior Srimulat--, karier Didi Kempot sebagai musisi tak mulus sekali jalan. ÔüúÔüú
ÔüúÔüú
Selama sekian tahun ia mesti bertungkus lumus mengamen di jalanan dan terasing di negeri sendiri. Selama itu pula ia mengalami segala nestapa yang berkarat: patah hati dan khianat. Dengan segala yang terperi itu, maka perlukah diherankan jika lagu-lagu Didi Kempot identik dengan kegetiran?ÔüúÔüú
ÔüúÔüú
Tentang kesabaran menanti seorang kekasih dalam "Layang Kangen"; menerima dengan lapang dada kenangan yang muskil kembali bersemi di "Suket Teki"; atau hati yang remuk karena mengetahui sang mantan telah memiliki kekasih baru di "Dalan Anyar".ÔüúÔüú
ÔüúÔüú
Sama sekali tidak berlebihan untuk menyebut Didi Kempot sebagai "The Godfather of Broken Heart". Sebab, sebagaimana Godfather pula, segala yang ia tulis dan ucapkan akan mengabadi dalam tiap generasi yang patah hati.ÔüúÔüú
Ôüú
***

(*) Owner Kedai Item Kota Bandarlampung, alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1996.